Menginjak usia 20-an, kita kerap dihantui oleh perasaan galau mengenai masa depan. Baik galau terkait karir maupun jodoh, uhuk. Benar saja, beberapa bulan belakangan ini saya tidak dapat tidur nyenyak. Musababnya adalah memikirkan kira-kira saya mau ngapain dan mau jadi apa setelah lulus kuliah nanti. Setelah proses perenungan yang cukup panjang, ternyata saya memang tertarik dalam dunia bisnis. 

Namun, saya masih ragu untuk memulai. Saya merasa minim dalam segi ilmu, praktik, dan pengalaman. Hey! Jangan putus asa. Pertolongan Allah itu nyata adanya. Kuncinya adalah kemauan untuk senantiasa belajar.
Saya bertransformasi menjadi sosok yang kepo. Sibuk mencari-cari informasi mengenai bazar kewirausahan. Tujuannya? Ingin belajar dari para senior di bidang UKM. Berkat kecanggihan teknologi, saya mendapat sebuah informasi mengenai acara yang diadakan oleh PLUT-KUMKM DI Yogyakarta. Acara ini berlangsung pada tanggal 6-7 September 2019 serta berlokasi di Alun-alun Sewandanan, Pakualaman. 
Semangat saya menggebu-gebu. Ditambah lokasi acara yang terbilang dekat dari kos, wuih makin semangat 45 rasanya. 
Sesampainya di lokasi, saya disambut oleh alunan merdu yang didendangkan oleh mbak-mbak mahasiswi UGM dari atas panggung.

Mengais Ilmu, Agar Masa Depan Tidak Kelabu

1. Sambal JI-PONG – @jipongyogyakarta (Instagram)

Tatkala sedang asik berkeliling ria, seorang bapak bermata sipit yang menggunakan topi koki berwarna putih menyapa dengan raut ceria “Monggo mbak dicicipi sambalnya”. Siapa yang mau nolak atuh, ya. Sebagai orang Sunda, sambal adalah makanan wajib setelah nasi. 

Tanpa menunggu komando, saya langsung menyocol sambal terasi dengan kerupuk bawang yang disediakan oleh Pak Jipong. Rasanya? Endeus pisaaaaaaan. Lidah saya bersukacita. Kolaborasi antara cabai dan terasinya terjalin sempurna. 

“Sambal bawangnya sekalian, mbak. Di bandara yang baru, ini paling laku, lho” begitu tuturnya. Atuhlah, lagi-lagi saya tak kuasa menolak. Rasa pedasnya meledak-ledak, membuat saya seketika lapar dan ingin menggelar tikar. Iya, maksudnya makan lesehan.

Tidak ingin membuang kesempatan, saya pun menanyakan berbagai hal secara antusias. Dari proses bincang-bincang ini, saya jadi tahu bahwa UKM sambal JI-PONG sudah berdiri sejak tahun 2014. Awalnya, Pak Jipong membuka usaha lesehan ayam dan bebek goreng. Lesehannya ramai dikunjungi pembeli. Ternyata yang menjadi daya tarik adalah sambalnya. Berbekal hal ini, pak Jipong memutuskan untuk berjualan sambal. Tentu saja usaha ayam dan bebeknya tetap berjalan, sudah bisa diorder via Go-Food lho.

Tersedia 3 varian rasa sambal JI-PONG, yakni sambal terasi, sambal bawang, dan sambal kecap. Khusus sambal kecap, pak Jipong memproduksi 5 tingkat kepedasan. Sambal kecap pedas (level 1), sambal kecap super pedas (level 2), sambel kecap super duper pedas (level 3), sambal kecap super duper double pedas (level 4), dan sambal kecap super duper triple pedas (level 5).

Beliau menuturkan, sambal JI-PONG yang dipasarkan di sebuah outlet batik di Cirebon, ludes 500 kemasan setiap bulannya. Jawaranya adalah sambal terasi. Sedangkan, di outlet bandara NYIA, sambal yang paling banyak diminati adalah sambal bawang. Sementara itu, sambal kecap adalah favoritnya para turis mancanegara. 

Dalam kurun waktu 4 tahun, sambal JI-PONG telah berganti-ganti packaging selama 4 kali. Pak Jipong menginginkan kemasan yang praktis, ringan, aman, dan ekonomis. Kemasan yang teranyar memiliki semua itu. Bahkan, Pak Jipong membanting kemasan sambalnya dihadapan saya untuk membuktikan bahwa kemasan tersebut tetap utuh. Tidak pecah, tidak rusak.
“Mengenai sertifikat MUI, apakah prosesnya sulit?” tanya saya.
“Sama sekali tidak. Saya banyak dibantu oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta. Pada saat itu, kami–para pelaku UKM, didata siapa saja yang ingin memperpanjang atau membuat baru” sahutnya.

“Saya tahu beres aja, mbak”.

Sambal JI-PONG juga telah mendapatkan izin dari Dinas Kesehatan. “Masa berlakunya sampai 2022, mbak” jelasnya.

2. Cao Kelor Pegagan TEGES – @caokelor (Instagram)

“Mari, mbak. Lima ribu saja” tutur Bu Fat, ketika saya berhenti di standnya. 
Saya menganggukan kepala, tanda setuju. Haus shay, habis makan sambal.

NYES, ADEM.
Setiap sedotannya memberikan sensasi menyejukkan.

“Ini bikinan ibu sendiri?” tanya saya dengan penuh penasaran.
“Iya, mbak” jawab Bu Fat mantap.
“Kok, keren bu. Bagaimana awalnya?”.
“Berawal dari lomba olah daun kelor yang diadakan oleh Dinas Pertanian pada tahun 2017. Eh, keterusan sampai sekarang” sahut Bu Fat dihiasi senyuman manis.

Bu Fat menuturkan bahwa dirinya memang sudah paham mengenai manfaat yang dihasilkan dari daun cincau, kelor dan pegagan. Ditambah, anak gadisnya merupakan sarjana pertanian. Bahkan saat ini tengah menjalani kuliah S2.

Di rumahnya, beliau menanam sendiri tanaman cincau, kelor, dan pegagan. Bahkan semalam, ketika chattingan, Bu Fat mengirimi saya foto-foto tanamannya. Hijau. Segar. Iya, kami berchatting ria setelah siangnya saling bertukar nomor WA.

Bu Fat menjelaskan, jika sedang ramai, dagangannya bisa habis 200 cup perhari. 

Sosok keibuan sangat kentara dalam dirinya. Disela perbincangan, beliau menawari saya jambu kristal yang telah dibelinya dari stand sebelah. Bu Fat juga mempersilakan saya untuk belajar cara menyajikan minuman cao kelor pegagan. 

HWAAA, jadi rindu ibu di rumah.


3. Gelang dan Kalung Manik-Manik

Jujur, saking serunya mengobrol bersama ibu berbaju merah pemilik UKM ini, saya lupa menanyakan satu hal penting: nama brandnya. HIKS. 

Ibarat sedang mengarungi perjalanan menggunakan kereta, sepanjang jalan kamu asik bercengkerama dengan orang disebelahmu. Ketika kalian berpisah, kamu baru sadar bahwa kamu lupa menanyakan namanya. JLEB.

Sambil menenteng sambal JI-PONG dan minuman cao kelor pegagan yang saya beli, saya mampir di stand ini. Pembawaan ibunya yang ramah membuat saya tak segan untuk bertanya satu dan lain hal. Sepertinya saya menghabiskan lebih dari setengah jam di stand tersebut.

Gelang dan kalung manik-manik tersebut merupakan produk handmade beliau. 

“Ini ibu belajar secara otodidak?” 
“Ooo, ndak mbak. Dulu saya itu kursus di Petra. Tahu kan Petra Aksesoris? Pokoknya diajarin dari nol sampai bisa. Waktunya juga fleksibel, misal mbaknya hari ini bisa terus jeda dua minggu sibuk, baru bisa lagi itu ndak apa-apa” jelas beliau.

“Jadi, saya itu kalau ada waktu luang digunakan untuk membuat gelang dan kalung. Daripada bengong”.

Beliau juga memaparkan bahwa produknya limited edition. Jika bulan ini memasarkan produk dengan motif A dan stok habis, beliau tidak akan membuat lagi motif yang sama. 

“Saya terus berkreasi, bikin motif baru. Ngikutin perkembangan. Ngikutin kemauan pasar” imbuhnya.

***

Selain produk-produk diatas, tersedia juga berbagai produk lain. Diantaranya, jajanan khas jadul alias jaman dulu, rempah-rempah khas bangka, kebab, sosis bakar, minuman yang terbuat dari lidah buaya, serta jambu kristal. 

Berdasarkan data dari akun instagram Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta, total terdapat 40 UKM yang berpartisipasi dalam acara ini.


***
 
Jika bincang-bincang saya dengan para pelaku UKM diasumsikan sebagai sesi perkuliahan, maka saya telah menuntaskan kurang lebih 6 SKS. Banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan. 
 
Sambal JI-PONG mengajarkan bahwa kualitas adalah nomor wahid, dan betapa pentingnya sebuah packaging. Pak Jipong juga memberi contoh yang baik bagaimana caranya bersikap terhadap konsumen. Salah satunya harus ramah.
 
Bu Fat, pemilik UKM cao kelor pegagan mengajarkan bahwa inovasi dan kreasi adalah kunci mutlak supaya bisnis tetap bertahan. Hal ini sejalan dengan prinsip yang dianut oleh Ibu berbaju merah pemilik UKM gelang dan kalung manik-manik.
 
Satu lagi, ketiganya mengajarkan saya bahwa berbagi itu indah. Ketiganya tidak tanggung-tanggung membagikan ilmu dan pengalamannya. 

***
 
Sampai jumpa di lain kesempatan! 🙂
 
Salam hangat, 
Uput.